Selamat Datang, http://www.semuatentangkebenaranislam.blogspot.com@2013. Powered by Blogger.
RSS

Sejarah

TAFSIR  -  HADITS  -  SUNNAH


Sejarah Turunnya Al Quran

Di bulan suci Ramadhan, seperti biasa setiap malamnya saya melaksanakan shalat tarawih di mesjid Al-Ikhlas yang berada tidak jauh dari rumah. Malam itu, ustadz yang mengisi kultum di mesjid tersebut menceritakan tentang asal mula turunnya Al Quran. Posting berikut ini adalah sedikit resume yang saya buat setelah mendapatkan kultum dari Ustadz tersebut.
Al Quran diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Al Quran terdiri dari 30 Juz, 6666 ayat, 114 surah dan diturunkan setahap demi setahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.

Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad dengan tiga cara, yaitu pertama malaikat Jibril turun dalam wujud manusianya dan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada nabi Muhammad, kemudian beliau mengikutinya. Kedua, adalah Al Quran turun tanpa perantara malaikat Jibril, sehingga tiba-tiba saja ayat-ayat Al Quran tersebut muncul dalam pikiran nabi Muhammad dan yang ketiga adalah Al Quran turun dengan didahului terdengarnya suara gemerincing lonceng yang sangat kuat. Cara terakhir adalah cara yang dirasa nabi Muhammad sangat berat saat menerima wahyu Allah SWT.


Al Quran yang telah diturunkan ini kemudian diajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat nabi terlebih dahulu sebelum akhirnya disyiarkan secara terang-terangan kepada masyarakat luas. Pada awalnya Al Quran ini hanya dituliskan pada media seadanya saja seperti kulit unta, tulang binatang dan lain-lain, mengingat pada zaman itu belum ditemukan manfaat kertas sebagai media untuk menuliskan Al Quran.

Pada zaman nabi Muhammad, Al Quran tidak diperbolehkan untuk ditulis, melainkan hanya dihafalkan saja di luar kepala baik oleh nabi Muhammad maupun sahabat-sahabatnya. Sementara itu, untuk menjaga kemurnian Al Quran, setiap malam di bulan Ramadhan malaikat Jibril turun ke bumi dan membacakan ayat-ayat Al Quran tersebut dan nabi Muhammad mendengarkannya dengan seksama. Nabi Muhammad sendiri melarang penulisan Al Quran ini dalam media apapun dalam satu kesatuan.

Setelah nabi Muhammad meninggal dunia, tongkat kepemimpinan Islam diberikan kepada kalifah Abu Bakar As syidiq. Pada masa kepemimpinan Abu Bakar ini, orang-orang Islam yang tipis imannya mulai banyak yang meninggalkan Islam. Mereka meninggalkan semua perintah-perintah Allah seperti shalat, puasa dan zakat. Selain itu, bermunculan pula nabi-nabi palsu yaitu orang-orang yang mengaku sebagai penerus nabi Muhammad.

Bayangkan saja, ternyata sejak ratusan tahun yang lalu sudah banyak bermunculan nabi-nabi palsu ke dunia ini. Maka tentu bukan suatu hal yang mengherankan jika sampai posting ini ditulispun masih saja ada orang-orang yang mengaku dirinya adalah nabi. Di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim ini saja ada banyak kasus kemunculan nabi palsu. Di antaranya Ahmad Mussadeq, Lia Eden dan lain-lain.

Kasus terbaru dan masih hangat adalah masalah aliran Ahmadiyah yang menganggap bahwa Ahmad Mirza adalah nabi penerus nabi Muhammad. Padahal Ahmad Mirza adalah nabi yang diangkat oleh ratu Inggris atas jasa-jasanya memimpin sebagian umat muslim Pakistan untuk berperang melawan muslim-muslim yang memberontak kepada kerajaan Inggris yang saat itu menjajah Pakistan. Ratu Inggris kemudian menyatakan bahwa Ahmad Mirza adalah “Nabi baru” umat Islam yang cinta perdamaian. <---- Tulisan yang dicetak miring adalah tambahan dari penulis sendiri dan bukan merupakan bagian dari kultum.

Kembali lagi ke zaman Kalifah Abu Bakar, dengan munculnya nabi-nabi palsu ini, maka Kalifah Abu Bakar kemudian memerintahkan para sahabat untuk memerangi nabi-nabi palsu dan umat Islam yang tipis imannya itu. Sayangnya, banyak sahabat nabi yang hafal Al Quran dalam rangka menegakkan agama Islam kemudian berguguran satu demi satu.

Melihat hal ini, kemudian Umar bin Khatab menyarankan kepada Kalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Quran dan menuliskannya menjadi satu kitab saja. Awalnya, ide ini ditentang oleh Kalifah Abu Bakar, karena menurut beliau nabi Muhammad sendiri yang melarang penulisan ayat-ayat Al Quran tersebut, namun setelah melalui perdebatan panjang dan demi menegakkan agama Islam, akhirnya Kalifah Abu Bakar pun mengalah. Setelah itu, dibentuklah panitia pengumpulan dan penulisan Al Quran tersebut.

Ayat-ayat Al Quran itu kemudian dikumpulkan dan ditulis ulang oleh Zaid bin Tsabit. Pada masa Kalifah Umar bin Khatab, kitab Al Quran hanya berjumlah lima buah dan disimpan di lima tempat yang berbeda antara lain, Mekkah, Basrah, Madinah, dan disimpan oleh Kalifah Umar sendiri.

Pada era kepemimpinan Utsman bin Affan, beliau berhasil menaklukkan Syria yang terlebih dahulu sudah mengenal kertas sebagai media untuk menulis. “Teknologi baru“ ini kemudian dimanfaatkan untuk memperbanyak kitab Al Quran. Akibatnya, sekarang semua orang dapat membaca, mengkaji dan memperdalam Al Quran dimanapun dan kapanpun juga. Bahkan, pada zaman sekarang Al Quran diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dengan tentu saja tetap menuliskan ayat-ayat asli Al Quran yang masih berbahasa Arab, sehingga kemurnian Al Quran Insya Allah masih terjaga kemurniannya bahkan sampai sekarang sekalipun. Terjemahan yang ada dalam Al Quran ini semata-mata hanya untuk mempermudah umat Islam untuk mempelajari Al Quran.

AYAT PERTAMA DAN TERAKHIR

Ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril ialah lima ayat pertama daripada Surah Al-Alaq.



”Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘alaq:1-5)

Dan peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah SAW sedang bertahannus (menyendiri) di Gua Hira. Sedangkan ayat Al-Quran yang terakhir sekali diturunkan adalah ayat-ayat riba iaitu ayat 278 sehingga 281 dari surah Al-Baqarah.

CARA-CARA AL-QURAN DIWAHYUKAN

Isteri Rasulullah SAW, Saidatina Aishah, meriwayatkan sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, beliau bermimpi perkara yang benar lalu beliau menyendiri di gua Hira’ beribadah kepada Allah SWT untuk selama beberapa tahun. Di gua berkenaanlah baginda menerima wahyu yang pertama.

Harith bin Hisham, seorang sahabat Rasulullah SAW, pernah bertanya kepada Baginda bagaimana Wahyu diturunkan kepadanya. Rasulullah menjawab, ”Kadang-kadang wahyu datang kepada-Ku dengan gema (desingan) loceng Dan ini amat berat bagi-Ku, Dan sementara bunyi itu hilang aku mengingati apa yang disampaikan kepada-Ku. Kadang Ia datang dalam bentuk jelmaan malaikat kepada-Ku merupai lelaki, bercakap dengan-Ku Dan aku menerima apa saja yang disampaikannya kepada-Ku.”

Nabi Muhammad SAW mengalami bermacam-macam cara dan keadaan semasa menerima wahyu. Antara cara-cara Al-Quran diwahyukan adalah:

1. Menerusi mimpi yang benar (al-Rukya al-Sadiqah) Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini, Nabi SAW tidak melihat sesuatu apa pun, hanya beliau merasa bahawa itu sudah berada di dalam kalbunya. Sebagai contohnya Nabi pernah bersabda mengatakan: “Ruhul Quddus mewahyukan ke dalam kalbuku bahawa seseorang itu takkan mati sehingga dia menyempurnakan rezekinya yang telah ditetapkan oleh Allah“. ( As-Syura: 51)

2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi SAW menyerupai seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar mengenai kata-kata itu.

3. Wahyu datang kepadanya seperti gemercingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan Nabi SAW. Kadang-kadang pada keningnya terdapat peluh, meskipun turunnya wahyu itu di musim yang sangat dingin. Ada ketikanya, unta beliau terpaksa berhenti dan duduk kerana merasa amat berat.

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: ” Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang demam yang kuat dan peluhnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.

4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi SAW. dalam rupanya yang benar-benar asli sebagaimana yang terdapat di dalam surah An- Najm ayat 13 & 14 : “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha”

5. Malaikat mewahyukan kepada Nabi SAW dari atas langit seperti yang berlaku dalam peristiwa al-Isra` wal Mikraj . Sesetengah ulamak berpendapat baginda SAW juga pernah berbicara secara langsung dengan Allah dan menerima wahyu seperti yang berlaku pada Nabi Musa.Perkara ini merupakan suatu khilaf di kalangan para ulamak.

TUJUAN AL-QURAN DITURUNKAN BERPERINGKAT

Tujuan Allah menurunkan secara beransur-ansur adalah bagi memenuhi objektif-objektif berikut :
1. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus dalam kadar yang banyak. Hal ini disebut oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah r.a.
Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kamaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Quran diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh)
Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih berkesan dan lebih berpengaruh di hati.

2. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Quran tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana disebut dalam Al Quran surah Al Furqaan ayat 32:

“……mengapakah Al Quran tidak diturunkan kepadanya sekaligus….?”

Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri:

“….Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu..”

FUNGSI AL-QURAN

Al-Quran mempunyai beberapa fungsi penting, diantaranya ialah:

1. Sebagai Mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran merupakan bukti kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sekaligus ianya menjadi bukti bahawa Al-Quran merupakan firman Allah SWT, bukannya ucapan atau ciptaan Nabi Muhammad SAW sendiri. Rasullulah SAW telah menjadikan Al-Quran sebagai senjata bagi menentang orang-orang kafir Quraisy. Didapati bahawa mereka sememangnya tidak mampu menghadapinya, padahal mereka mempunyai kemahiran menggubah bahasa-bahasa yang indah dalam ucapan dan sajak-sajak mereka. Al-Quran secara prisipnya telah mengemukakan cabaran kepada bangsa Arab menerusi tiga peringkat iaitu :

Peringkat pertama.

Mencabar mereka dengan keseluruhan Al-Quran dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia malah jin, dengan cabaran yang mengalahkan dan menjatuhkan mereka secara padu sebagaimana firmanNya.

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lain.” (17 : 88)

Peringkat kedua.

Mencabar dengan sepuluh surah sahaja daripada Al-Quran. Sebagaimana firmanNya:

“Bahkan mereka mengatakan “Muhammad telah membuat-buat Al-Quran.” Katakanlah: Jika demikian, maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu, ketahuilah, sesungguhnya Al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah” (11 : 13-14)

Peringkat ketiga.

Mencabar mereka hanya dengan satu surah daripada Al-Quran sahaja. Sebagaimana firmanNya:

“Atau (patutkah) mereka mengatakan: Muhammad membuat-buatnya (Al-Quran). (Kalau benar yang kamu katakan itu), cubalah datangkan satu surat seumpamanya” (10 : 38)

Dan cabaran ini diulangi di dalam firmanNya:

“Dan jika kamu tetap dalam keadaan ragu tentang Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad saw), maka buatlah satu surat saja yang semisal Al-Quran itu…” (2 : 23 )

2. Sebagai Sumber Hukum Dan Aturan Hidup.

Ayat-ayat Al-Quran mengandungi peraturan tentang hukum-hukum siyasah negara, sosial, pendidikan, pengadilan, akhlak dan sebagainya. Semua aturan dan hukum ini wajib dijadikan sebagai pandangan hidup bagi seluruh kaum muslimin dan umat manusia untuk mengatasi semua permasalahan hidup yang dihadapinya.

Sememangnya penyelesaian yang diberikan oleh syariat Islam adalah merupakan penyelesaian yang sebenar-benarnya kearan ia satu-satunya perundangan yang dapat memenuhi fitrah manusia itu sendiri. Kemampuan syariat Islam dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan kehidupan manusia inilah yang akan menjadikan Al-Quran sebagai mukjizat abadi yang paling menonjol di muka bumi.

No comments:

Post a Comment